|
|
“Manusia
adalah seperti mesin pencetak uang.
Kalau
mesin ini rusak karena suatu hal yang tidak
bisa dicegah,
maka
uang tidak akan bisa dihasilkan lagi,
sehingga
pendapatan atau kehidupan kita akan terpengaruh”
|
Tabungan
biasa
Setiap orang biasa menabung. Pada umumnya tabungan
ini disimpan di bank. Dibutuhkan waktu setidaknya
dua puluh tahun agar tabungan di bank mencapai
jumlah yang besar.
Namun
bila peristiwa-peristiwa atau keadaan-keadaan
buruk datang lebih cepat daripada perkiraan kita
maka rencana untuk mengumpulkan banyak uang selama
dua puluh ini akan hancur berantakan.
Bank tidak akan pernah peduli dengan keadaan dan
kondisi kita, apakah kita dalam keadaan sehat,
sakit, kena musibah atau bencana, bank tidak akan
pernah peduli, dan kita hanya dapat mengambil
sejumlah uang yang sudah ditabung untuk dipakai
sebagai biaya.
Oleh karenanya, kita harus menabung dalam jumlah
yang cukup untuk mengamankan kepentingan kita
di masa depan sebelum kemalangan dan musibah datang
kepada kita.
Tabungan
dengan Asuransi Jiwa
Sebenarnya, kita bisa menabung uang kita dengan
polis asuransi jiwa. Apabila kita hendak menabung
di Prudential selama 10 tahun (misalnya Rp.500.000
per bulan), dan suatu musibah terjadi di tengah
jalan, maka kita masih dapat menyelamatkan seluruh
dana yang telah ditabung dan uang yang diasuransikan
dapat diambil ketika bencana itu terjadi.
Prudential sangat peduli dengan kondisi anda,
baik pada saat anda senang atau susah. Kita dapat
mengajukan klaim apabila terjadi kemalangan dan
uang yang pernah ditabung di perusahaan asuransi
tidak akan pernah hilang, berkurangpun juga tidak.
Perencanaan
Keuangan Terpadu
Kebanyakan orang hanya mempunyai satu alasan dalam
membuat rencana keuangan, yakni menghasilkan kekayaan
lewat beberapa jalur. Malangnya, banyak orang
mengabaikan resiko-resiko kehidupan dan juga resiko-resiko
investasi yang mungkin datang bersamaan dengan
pelaksanaan investasi.
Setelah membelanjakan pendapatan untuk kebutuhan-kebutuhan
rutin, sebagian besar orang barulah menabung sisanya.
Sisa dana ini pertama-tama mereka alokasikan untuk
asuransi, kemudian saham, investasi atau properti.
Apabila terjadi bencana, mereka tidak bisa bekerja
lagi, tetapi dapat menarik tabungan dan semua
bentuk investasi.
Oleh karena itu, untuk merumuskan serta membuat
perencanaan keuangan terpadu, kita harus berpikir
dan bertindak strategik dan menyiapkan rencana-rencana
yang mungkin.
Misalkan
Rencana A dimaksudkan untuk mengumpulkan kekayaan
dengan tabungan reguler, dengan memperhitungkan
berbagai cara investasi dan mengasumsikan umur
hidup yang diharapkan.
Sementara itu, Rencana B digunakan untuk melindungi
resiko dan diversifikasi resiko. Berbeda dengan
cara konvensional, manajemen resiko terpadu dimaksudkan
untuk menyediakan dana-dana kematian, cacat, penyakit
berat, kecelakaan dan darurat. Hal ini telah memperhitungkan
segala macam resiko hidup kita.
Maka,
bila terjadi bencana mendadak, kita tidak bisa
terus menabung, tetapi bisa terus berinvestasi
dan kita tidak perlu menjual aset-aset kita.
Sejatinya, manajemen resiko terpadu mengedepankan
dan menjamin semua ini, sehingga bila kita bekerja,
rencana pensiun kita tetap aman dan kita dapat
menikmati income dari polis-polis asuransi. Selain
itu, keluarga kita masih dapat melanjutkan hidup
sebagaimana biasa sambil menyekolahkan anak-anak
kita di lembaga-lembaga pendidikan terbaik
Yang paling penting tentu saja adalah menciptakan
kehidupan nyaman, yakni menikmati hasil-hasil
yang memuaskan dari rencana keuangan terpadu.
Akhirnya, kita dapat pensiun tanpa rasa khawatir.


Asuransi
jiwa adalah kebutuhan pokok bukan kebutuhan mewah

|